Kamis, 01 September 2016

Surat Untuk Ayah



 










Dear Ayah

Apa kabar? Setelah 2 tahun lebih kita tak bertanya kabar apa lagi bertemu. Ayah, saya tidak tahu harus bagaimana bersikap pada ayah. Jika saya tidak baik, saya takut karena bagaimana pun ayah adalah ayah kandung saya. Tapi yah, jika mengingat semuanya saya kecewa pada ayah dan rasa kecewa itu sudah sangat besar ada di hati saya, hingga saya sudah tak punya rasa lagi sepertinya.
Dua hari yang lalu, ayah sms saya, katanya istri ayah sakit dan ingin bertemu saya. Jujur saja, saya masih ada ego untuk tidak mau peduli tentang hal itu, seperti selama 25 tahun ini bukan? Ayah tak mau tahu bagaimana susahnya saya menjalani kehidupan saya, bagaimana saya saat sakit, bagaimana saat saya tersakiti oleh orang lain. Tapi saya belajar satu hal dari ayah bahwa kebahagiaan dan rasa kecewa itu satu paket yang tidak bisa dihindarkan dalam hidup kita.

Ayah,

Tuhan ingin saya belajar untuk menerima, Tuhan juga ingin saya tumbuh menjadi seseorang yang mampu memaafkan. Seberapa sering ayah membuat saya kecewa, tapi saat ayah datang dan meminta maaf serta ingin memperbaiki semuanya, tangan saya selalu terbuka, tapi lagi dan lagi ayah tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.
Saya piker, pertemuan pertama kita itu akan mengubah hubungan kita menjadi lebih baik, selayaknya seorang ayah dan anaknya tapi sayangnya sebaliknya. Ayah lagi-lagi membuat saya dan nenek kecewa. Tapi gak apa, itu membuat saya belajar bahwa orang tersdekat itu justru yang akan lebih membuat kita kecewa.

Saya tidak tahu kenapa saya ditakdirkan dengan jalan hidup seperti ini. Yang berbeda dengan kebanyakn orang lain. Tapi sudahlah, bukankah ini justru yang bisa membuat saya tegar dan tidak lemah menghadapi semua persoalan yang ada dalam hidup saya. Bukankah ini justru membuat saya harus berdamai dengan keadaan, harus menerima dan memeluknya. Saya tidak bisa mengutuki apa yang sudah menajdi takdir hidup saya, jika dulu memang saya megingkarinya, sekarang saya sedang belajar untuk menerima semua rasa kecewa, rasa sedih, rasa takut dan bahagia. Itu semua tidak bisa diingkari dan pasti akan datang dalam hidup kita.

Ayah

Bagaimanapun saya tidak bisa mengingkari bahwa darah yang ada dalam tubuh saya ini adalah darah ayah. Walaupun kita tidak dekat dan bertemu pun hanya dalam hitungan jari, tapi yaah itu semuanya tidak bisa diingkari. Saya sepenuhnya menerima ayah sebagai ayah saya, saya memeluk semua rasa kecewa, saya belajar untuk mempunyai hati yang lapang, memaafkan apa yang telah terjadi dan menerima apa yang sudah dituliskan tuhan untuk saya. Mungkin saya terlambat untuk memahami itu semua, saya masih harus belajar untuk menaklukan segala ego yang ada dalam diri saya, tapi ayah keadaan ini membuat saya belajar tentang hidup.  Terima kasih sudah menjadi ayah saya, dan semoga kita bertemu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dengan mengirim komentar kita telah berbagi

Kegelisahan Karena Belum Menikah

Akhirnya memasuki usia dimana   sudah ditanyakan “Kapan akan menikah?” atau kamu calonnya mana? Jangan kerja terus ...