Jumat, 27 September 2013

Masalah = Bersyukur

When you try your best.  But you don’t succed
When you get what you want but not want you need
When you feel  so tired but you can’t  sleep
Stuck in reverse
And the tears come streaming down your face
When you lose something you can”t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse
                      By  Couldplay
Pernahkah mengalami seperti lirik lagu diatas. Seolah-olah dunia akan berhenti berputar. Tidak ada lagi pikiran jernih. Ingin rasanya hilang ingatan dan memulai hidup baru lagi. Ingin terlahir kembali. Ingin kembali menjadi anak-anak karena menjadi dewasa adalah menghadapi masalah yang rumit dan entah ujungnya seperti apa.

Namun inilah hidup. Jangan hidup jika tidak ingin ada masalah. Saya selalu yakin tuhan selalu memberikan porsi masalah sesuai dengan kemampuan. Ketika kita berkata masalah ini adalah terberat dalam hidup kita, coba tanya pada mereka yang tidak sempurna. Mereka yang tidak mampu melihat, sepanjang hidupnya berada dalam kegelapan. Mereka yang tidak bisa berjalan sepanjang hidupnya menggunaan kursi roda atau tongkat. Mereka yang tidak punya tangan, sepanjang hidupnya harus menggunakan kaki untuk melakukan aktivitasnya. 

Apakah itu masalah? Bagi kita tentu saja. Saat saya mengalami kecelakaan misalnya saya mendapat masalah pada kaki saya sehingga pergerakan saya terbatas. Saya hanya bisa berbaring ditempat tidur, saya bosan, saya benci. Namun itu hanya sementara, tidak terbayangkan bagi mereka yang tidak bisa berjalan bertahun-tahun.

Ketika nenek saya meninggal. Mama saya sendiri karena tidak punya saudara. Jujur saja hingga saat ini mama saya masih menangis, ya pasti sedh ditinggalkan seorang ibu. Tapi saya berpikir ulang bagaimana mereka yang ditinggal keda orang tuanya sejak kecil?  

Bukankah kenyataan yang diberikan Tuhan pada mama saya lebih baik.
Saya sering bertanya pada Tuhan, kenapa saya tidak bisa merasakan kasih sayang tulus dari ayah kandung saya. Kenapa tuhan harus menciptakan saya dari ayah kandung saya yang entah dimana sekarang? Ketika saya berbincang dengan teman-teman saya, mereka tidak punya ayah sehebat ayah saya sekarang. Tuhan punya rencana, saya punya ayah terbaik. saya tidak peduli lagi dia ayah biologis atau bukan. Yang pasti saya tak kekurangan kasih sayang. Saya bisa sekolah sama seperti teman-teman yang lain. Saya bisa makan, saya mendapat pendidikan yang layak. Ayah saya yang saat ini begitu sayang sama saya. 

Dia tidak akan tidur sebelum anak perempuannya sampai dirumah. Lalu apa lagi yang kurang? Dan apa yang harus dipermasalahkan?
Tapi manusiawi memang ketika kita menghadapi masalah timbul pertanyaan, Tuhan kenapa harus saya? Tuhan saya lelah, menghadapi masalah yang bertubi-tubi. Tuhan ini bukan yang saya inginkan. Jika mendengar itu Tuhan kan tersenyum dan mungkin saja berkata,”Hai hambaku, ini adalah pilihan terbaik dariku untukmu. Kamu bisa lewatin ini semua karena kamu hebat. Saat ini kamu mengeluh tapi suatu saat nanti aku yakin kamu akan bersyukur. 

Masalah ini penghebat kamu agar mendapat derajat yang lebih tinggi disisiku”
Hanya saja kadang kita tidak pernah sadar akan hal itu. Hanya saja kita selalu melihat kearah yang lebih tinggi. Hanya saja dunia sekan-akan kiamat. Toh itu memang sifat manusiawi  tapi semoga tidak terlalu lama J

*Selamat pagi. Saya harus segera menyelesaikan permasalahn perwalian saya. 

Cerita Juli 2022

 Dear Juli Selalu yah Juli ini punya cerita yang luar biasa untukku, aku selalu dibuat banyak belajar dibulan Juli ini.  Juli ini adalah bul...