Minggu, 26 Januari 2014

Menungggu Pagi di Bromo




Aku melanjutkan perjalananku menuju gunung Bromo. Ini adalah salah satu resolusiku di tahun 2013. Dan ternyata memang benar jika kita bisa menulis impian kita maka alam akan bekerjasama mewujudkannya. Sebelumnya aku tidak menyangka akan melakukan perjalanan ini dan bagiku perjalanan ini sungguh sederhana tapi luar biasa. Bukankah kesederhanaan itu yang akan membentuk keluar biasaan. Aku berangkat dari Surabaya ba’da dzuhur menggunakan motor.  Ini juga diluar rencana, awalnya akan ke Malang dengan kereta, tapi untuk mengirit dana transportasi dan keadaannya mendukung menggunakan kendaraan roda dua menjadi sangat menyenangkan. Perjalanan panjang  dimulai, aku tidak begitu hapal arahnya kemana yang pasti kita melewati Sidoarjo dan sempat berheti disana untuk melihat lumpur lapindo. Aku kira kesana grstid eh ternyata kita harus mengelluarkan ang 5.000 rupiah perorang. Semoga uangnya bias bermanfaat untuk para korban.
https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/t1/q79/s720x720/1506006_621753424552669_959228588_n.jpg
Lumpur Lapindo

Kasus ini memang belum tertangani, banyak yang mengalami kerugian, dan entah siapa yang harus bertanggung jawab, karena semuanya seperti cuci tangan. Namun ada sebagian keluarga yang telah mendapatkan haknya. Lumpur luas itu mengingatkan aku satu hal bahwa segalanya memang milik Tuhan, apa yang bisa disombongkan oleh manusia, hanya karena lumpur yang dianggap awalnya sepele manusia kehilangan harta benda yang berharga. 
Jalanan yang lurus membuatku merasa perjalanan ini sungguh panjang dan entah akan berujung dimana. Motor yang kami kendarai memasuki Gapura Selamat datang, kemudian meninggalakannya begitu seterusnya. Karena merasa lelah dan sudah waktunya solat ashar akhirnya kita berhenti di sebuah peristirahatan untuk melemaskan otot-otot sejenak.

Kita kembali melanjutkan perjalanan disana tertulis 20 km Gunung Bromo.  Hatiku sudah riang dan berbisik pada Ega, sebentar lagi. Motor terus dipacu dan akhirnya kami tiba di pertigaan menuju gunung Bromo. Ada insiden kecil disana, saat kami menepi tiba-tiba ada motor yang membawa kawat panjang menyeruduk kami. Kawatnya yang menggores membuat kami kaget, dan si bapaknya hampir saja terjatuh. Kami kaget sekaligus lucu dan tertawa sejenak.

Perjalanan menyusuri pemandangan yang bagus dimulai. Kiri kanan kami adalah sawah yang terhampar. Dan disana aku bisa melihat puncak Mahameru yang luar biasa. Udara dingin mulai terasa, tapi aku menikmatnya sebagai bentuk rasa syukur karena ini yang dirindukan selama di Surabaya. Jalannanya tidak selurus yang tadi kami lewati, nain turun dan berkelok. Sesekali aku lihat sinyal di HP kadang SOS. Kami terus melewati beberapa desa, hingga akhirnya sampai di perkampungan Suku Tengger. Disini sudah banyak warga yang memiliki homestay duduk dan menawari kami. Awalnya kami kaget mendengar mereka berteriak-teriak, kami pikir ada apa ternyata menawari homestay. Kemudian ada satu motor yang mengikuti kami dan menawari homestaynya. Dia menawarkan harga kemudian tawar menawar terjadi tapi dengan catatn tidak deal sebelum melihat kamarnya. Kita turun lagi dan melihat kamar yang ditawarkan. 
 https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/q77/s720x720/998651_621753711219307_2022226414_n.jpg

Namanya Pak Udi, dia punya dua rumah yang satu kita hanya bisa menyewa kamarnya saja tapi yang satunya kita menyewa satu rumah. Karena masih penasaran kami mencari homestay yang lain dan mungkin ini salah satu strategi agar konsumen tidak lepas, pak Udi menawari rumah kakeknya diatas. Kami ikut saja, dan ternyata fasilitas yang ditawarkan jauh berbeda. Disana tidak ada TV walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka nonton TV tapi pasti terasa sepi selain itu kasur  disana tidak nyaman sangat keras. Kami tertawa saja dan menyetujui penawaran pertama.

Ukuran rumahnya sederhana, ada 3 kamar tidur, satu ruang tamu, kamar tengah, dapur dan kamar mandi. Rumahnya sangat nyaman, bersih dan tertata. Apa lagi ada dapur ada rasa menyesal kenapa tadi tidak belanja dulu tahu kayak gini mungkin aku bisa memasak. Yups memasak adalah hobyku, entah kalau melihat dapur tuh bawaannya pengen masak.

Kamar mandinyapun dilengkapi air panas, jadi ini akan membuat betah dikamar mandi. Aku dan Ega memilih tidur diruang tengah, sedangkan Mahfud dan Nila dikamar satunya. Udara yang sangat dingin membuat kami sempat rebutan selimut, dan untungnya aku bisa mempertahankan selimutku. Sepertinya sudah senja, tapi aku tidak melihat matahari disini semuanya sudah tertutup kabut. Pak Udi juga menawarkan jasa tour Guide pada kami, karena kami tidak tahu arah dan baru pertama maka deal kami menggunakan jasanya. Pak Udi berjanji pukul 4 dia akan membangunkan kami agar tidak ketinggalan melihat matahari terbihttps://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/q80/s720x720/1476268_621754867885858_2130334645_n.jpgt. 

Didepan rumah ada anak laki-laki yang menenteng barang jualan, ada syal, kupluk, sarung tangan dan lainnya. Ega menawariku untuk beli, sebagai kenang-kenangan katanya. Aku juga sepakat kemudian kita memilih salah satu kupluk. Aku bertanya pada anak itu dia masih sekolah ataua tidak itu sudah menajdi kebiasaanku, ternyata dia masih kelas dua SMP seumuran dengan adikku.

Setelah itu aku kemudian membersihkan diri, mandi dengan air hangat tentunya sebenarnya ingin pakai air dingin biar terasa sensasinya namun inget kalau aku punya alergi dan takut Flu sepanjang malam terpaksa memakai air hangat. Setelah memakai piyama, baju hangat dan syal aku dan Ega mencari makanan ke bawah. Disana kami menemukan warung dan memesan ayam goreng serta teh panas. Disini rasa tehnya sungguh khas dan enak, baru kali ini aku merasakan rasa teh yang seperti ini.

Jam masih menunjukan pukul 8, tapi serasa sudah tengah malam, sunyi dan sepi. Selesai makan hanya mengobrol sebentar dengan Ega, Mahfud dan Nila, kemudian bergegas menuju balik selimut karena udara yang begitu dingin. Aku tidur sangat lelap, mungkin karena capek atau memang nyaman sampai tak terasa tiba-tiba ada yang mengetuk jendela.

“Mbak, bangun ntar ketinggalan Sunrise,” katanya. Sepertinya itu suara Pak Udi, aku melitrik jam di HP masih pukul 3, ah itu lagi nyenyak banget terlelap. Ega sudah bangun duluan dan ribut menggedor kamar Mahfud dan Nila. Aku diam saja dibalik selimut memejamkan mata beberapa menit, kan lumayan.
Ega segera ke kamar mandi dan menyiapakn diri. Aku juga sama membasuh muka, menyikat gigi dan mengganti baju. Setelah siap kami kemudian keluar dan melihat pak Udi sudah siap. Pak Udi menyarankan kami untuk membeli bensin karena diatas pasti tidak ada yang berjualan. Aku dan Ega mengikuti Pak Udi, hari masih sangat gelap dan kabut masih tebal. Suasananaya begitu sepi. Pak Udi memarkirkan motormya disalah satu penjual bensin. Rumahnya sepi sepertinya sang pemilik rumah tengah terlelap dalam mimpi indahnya. Pak Udi mengedor pintu si pemilik rumah dan memnaggilmya berkali-kali. Sesekali klakson dibunyikan tapi tetap saja tidak ada jawaban. 

Kami menunggu beberapa saat namun si pemilik rumah enggan sepertinya atau memang tidak mendengar gedoran pintu dari kami. Tidak ada pilihan kami memilih membeli bensin di tempat lain. Kami memacu motor menembus dingin dan gelap. Kabut sangat tebal. Aku memeluk Ega dan bibir kami bergetar ketika berbicara. Untuk menghibur diri seseklai kami tertawa tidak jelas karena apa yang diucapkan tidak begitu terdengar. Jalan yang menanjak dan berkelok membuat Ega kesusahan dan sempat motor kami mogok karena tanjakan. Aku terpaksa turun. 

Kami tidak ke penanjakan 1 karena tidak memungkinkan jika menggunakan motor.  Ami menunggu sunrise ditempat yang lain. Sesampainya disana kami melihat segerombolan orang yang sepertinya bersiap-siap melihat sunrise. Kami tiba disebuah bukit kecil disana ada seorang perempuan yang menjajakan dagangannya.  Sambil menggosok-gosokan tangan kami menikmati pemandangan sekitar yang masih tertutup gelap. Sambil menunggu kami berfoto. Kemudian matahari perlahan akan menampakan wujudnya. Sehingga kami bisa melihat pesona Gunung Batok yang menawan. Aku berjalaan-jalan sebentar sambil terus memandang ke ufuk timur karena takut ketinggalan moment itu. Ini adalah pagi yang luar biasa dan baru pertama kali aku menunggu pagi.

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/q71/s720x720/1184956_621753731219305_284629350_n.jpg
Mentari Terbit di Bomo
 https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/t1/q71/s720x720/1462890_621753761219302_103875964_n.jpg
Matahari perlahan keluar dari balik bukit. Semburan cahaya kekuningannya menyiratkan keagungan Tuhan. Matahari adalah sumber kehidupan bentuk tangan Tuhan yang luar biasa. Di menyemburatkan cahaya yang dinanti oleh seluruh mahluknya. Dengan perlahan dan seperti putri yang malu-malu menyibakan tirai yang menutupi wajahnya matahari keluar. Sungguh moment yang luar biasa. Aku bersyukur tiada tara atas keagungan Tuhan ini. Tuhan begitu baik padaku sehingga aku diberikan kesempatan untuk melihat keagungan Tuhan pada hari ini.


Seraya memperhatikan terbitnya Matahari, segerombolan wisatawan dari Malaysia datang. Aku berkenalan dan ngobrol dengan mereka sebari memeperkenalkan tempat-tempat yang tidak kalah cantiknya di Indonesia.
 https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/t1/q75/s720x720/993803_621754411219237_825441723_n.jpg

Setelah melewati moment tersebut, kami turun dan mencari sarapan. Sepiring nasi goreng cukup membuat kenyang dan membuat tubuh kami siap melanjutkan perjalanan selanjutnya. Selesai itu kami menuju pasir berbisik. Hamparan pasir di kaki Gunung Bromo ini bak di Gurun pasir, mungkin bisa dibilang ini gurun pasir mini.  Hamparan Pasir ini sungguh membuat  ban motor kami agak kesulitan hingga tak heran kami ketinggalan oleh Pak Udi ataupun Mahfud. Namun bagiku ini menjadi kesempatan untuk merasakan hangatnya matahai dan sejuknya udara di hamparan pasir. 


Setelah Sampai aku tidak mendengar pasir bersbisik karena anginnya yang kurang kencang. Setelah puas berfoto disana kami melanjutkannya ke patung Singa. Awalnya aku melihat itu hanya batu biasa saja, tapi jika diperhatikan dengan sekama memang mirip Singa. Saat bertanya itu bukan pahatan memang sudah aslinya seperti itu. Jangan lupa juga untuk berfoto di Savana. Bukit yang hijau dengan rumput yang pendek menjadi pemandangan yang tidak kalah menawannya.
Setelah melewati itu semua, saatnya untuk naik melihat kawah Gunung Bromo. Selain jalan kaki ada alternatif lainnya yaitu dengan menggunakan Kuda. Awalnya aku tidak akan menunggangi kuda karena mungkin saja harganya mahal. Namun moment ini mungkin tidak akan terulang lagi. Awalnya si yang punya kuda menawarkan harga 150 blak-balik, namun kami menawarnya hingga 150 pulang pergi dan dua kuda.

Menunggangi kuda gak deg-degan bagiku. Ini kali pertama setelah dewasa, dulu aku sangat suka naik kuda tapi lupa bagaimana rasanya. Nama kuda yang aku tunggangi Rambo. Dia adalah kuda yang ramah tapi membuatku deg-degan. Setiap bertemu dengan temannya dijalan dia mengeluarkan suara dan kakinya agak menghentak-hentak ke tanah. Tentu saja itu membuat jantungku berdegup kencang dan sesekali bertanya pada yang memeganginya, tapi katanya tidak apa-apa.
 https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/t1/q72/s720x720/1483230_621755177885827_1926489293_n.jpg

Tanah yang berpasir dan tiupan angin membuat mata perih. Sesekali aku memejamkannya tapi itu tidak membuat hati menjadi tidak menyenangkan, justru menajdi sensai tersendiri.
Akhirnya aku sampai di anak tangga, dan harus melewatinya. Dengan nafas terengah-engah akhirnya aku sampai di kawah gunung Bromo. Mengabadikannya dalam lensa kamera adalah hal yang sangat penting, namun sayang kamera DSLR yang kami bawa sudah mati dari sejak menyaksikan Sun Rise. Walaupun dengan menggunakan hp itu tidak menjadi masalah. Disana juga aku dan Ega berkenalan dengan pengunjung dari Malang dan kami berfoto bersama sekaligus meminta tolong untuk memfotokan aku dan Ega. Setelah puas kami turun dan menunggangi kuda kembali. 

Kami kembali ke homestay menyusul Nila dan Mahfud yang sudah duluan kesana. Sesampainya disana aku membersihkan tubuhku dibawah guyuran air hangat, sungguh menyegarkan.
Setelah dzuhur kami kembali menuju Surabaya, awalnya mau ke Malang tapi ada sesuatu hal jadi gagal. Aku udah kesel bangt waktu itu, keinginanku adalah ke Malang. Tapi baiklah mungkin Tuhan belum memberikan kesempatan bagiku, lain kali aku bisa kesana.

Melewati jalan yang sama tapi jangan harap akan melewatinya dengan keadaan yang sama. Langit tidak bersahabat, sudah terlihat begitu gelap. Sepertinya hujan akan segera turun. Dan benar saja tetesan airnya sudah mulai turun, aku mencari tempat untuk berteduh mengeluarkan jas ujan yang sudah dipersiapkan. Biar tas gak basah, aku meminta kantong kresek  setelah semuanya selesai kami melanjutkan perjalanan kembali. Hujan semakin besar dan begitupula anginnya sangat kencang.  Aku ketakutan tiba-tiba wajah mama muncul begitu saja, aku memeluk Ega erat sekali. Dan beristigfar. Tidak hanya aku, Ega juga merasakan hal yang sama. Kemudian kami memutuskan untuk berhenti di salah satu tempat makan sambil menunggu hujan reda. Walaupun menggunakan jas hujan jangan kira baju terhindar dari basah.


Karena Aku Wanita




Aku adalah seorang wanita. Aku sama seperti ibumu yang melahirkanmu. Aku punya rahim dan juga payudara. Lalu kenapa kau mencaci dan memakiku? Karena selaput dara yang telah terobek oleh laki-laki yang bukan menjadi suamiku?

Kau tidak suci katamu suatu hari? Lalu apa yang membedakan kesucian itu? Hanya sebatas selaput dara yang telah terobek?  Kamu diam saat aku tanya seperti itu. Katamu wanita itu harus menjaga kesuciannya. Lalu bagaimana dengan kamu yang merobek selaput dara para wanita? Apakah kau lebih suci dari mereka?  lalu apa itu salahku yang hanya seorang wanita? 

Aku sudah mempertahankannya,  tapi kalian laki-laki cukup pandai merayu bahkan memaksaku dengan kata-kata cinta. Setelah itu yang salah masih saja aku karena aku hanya seorang wanita.
Kenapa tuhan tidak mencipatakan selaput dara bagi kau laki-laki? Jika kalian punya selaput dara apakah kalian laki-laki  siap disebut tidak suci jika sudah terobek? Jika kau punya selaput dara sama sepertiku apakah kau masih mau jajan kesana dan kemari?

Kenapa kau boleh polygami? Sedangkan aku wanita harus rela dan menerima? Karena kau tak bisa memberikan aku anak, katamu suatu hari. Lalu apakah jika kau tidak bisa memberikanku anak kau akan rela melihatku menikah lagi demi anak yang aku impikan? Kenapa demikian? Karena aku wanita dan kau laki-laki?



Kegelisahan Karena Belum Menikah

Akhirnya memasuki usia dimana   sudah ditanyakan “Kapan akan menikah?” atau kamu calonnya mana? Jangan kerja terus ...