Jumat, 22 Oktober 2021

Ceritaku Tentang Jakarta

Jakarta

Ini tahun ke -7 aku berada di kota ini. Saat itu aku  mendadak pindah ke Jakarta dan tidak merencanakan apapun. Pindah dari Bandung membuatku patah hati karena harus meninggalkan kehangatan Bandung, teman-temanku, hingga akhirnya aku bisa berdamai dan menerima bahwa disinilah aku akan memulai cerita baru sejak itu.

Jika Bandung mengajarkan persahabatan, kehangatan dan mimpi, disini aku belajar tentang berjuang, berdamai, menerima rasa bahagia dan juga kecewa serta tidak menyerah.

Jakarta dan kesibukan, dua hal yang tidak bisa dipisahkan, begitu juga denganku. Bekerja di media terkadang tidak mengenal batas waktu untuk bekerja. Waktuku dihabiskan hanya untuk pekerjaan, jangankan waktu untuk orang lain, waktu untukku sendiri saja rasanya tidak ada.

Pernah berada di fase tidak libur berbulan-bulan, pulang kerumah hanya untuk tidur, itupun sambil membawa pekerjaan yang masih belum selesai. Saat ramadhan aku jarang sekali untuk berbuka di rumah, karena senin-jumat bekerja dan weekend aku habiskan bekerja juga, karena saat itu aku ada program ramadhan.

Semuanya terasa normal, ya karena yang aku tanamkan adalah aku harus bekerja keras untuk meraih semua impianku, dan aku sangat mencintai pekerjaanku, jika tidak ada rasa kantuk mungkin kita bisa bekerja 1x24 jam. Sampai tengah malam aku kadang masih membalas chat dari klien. 

Ada satu kejadian yang menyadarkanku,  bagaimanapun aku harus punya waktu untuk orang yang aku sayangi. Saat itu aku sedang mengadakan promo jingle program pemilu ke beberapa stasuin TV, sore hari bapak tiba-tiba menelpon dan bilang Mamah sakit, sesak napas dan aku diminta pulang, sepanjang jalan aku menangis, berpikir yang macam-macam dan merasa selama ini aku tidak perhatian sama Mamah karena saking sibuknya aku bekerja. Aku takut sekali saat itu, bagaimana jika aku tidak bisa bertemu mamah lagi, dengan keadaan panik aku menelpon teh Tantry, orang terdekatku. Dan aku tersadar lagi, orang yang akan berada disisiku, mendukungku adalah orang yang selama ini jarang aku beri waktu untuknya. Semenjak kejadian itu aku berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membagi waktuku untuk orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang akan memegang tanganku saat aku terjatuh, yang akan memelukku saat aku sedih, yang tidak akan membiarkanku sendirian saat aku terluka. (Ngetik ini sambil nangis).

Aku mulai belajar, bahwa hanya kita yang bisa mengontrol diri kita sendiri, bukan orang lain. Dan kita tidak punya kewajiban untuk terus membahagiakan orang lain. Karena kebahagian itu adalah tanggung jawab masing-masing. Hidup tentu saja butuh materi yang cukup, agar kita bisa berbagi, bisa membeli apa yang kita inginkan, tapi momen bersama orang yang kita sayangi adalah sesuatu yang mahal. Jangan sampai kita menyadarinya saat sudah kehilangan.

Saat ini cita-citaku ternyata sederhana sekali, aku ingin melakukan semua hal itu secukupnya dan tahu mana batasannya. Terkadang dengan terlalu mengejar sesuatu malah kita kehilangan banyak hal, tapi dengan merasa cukup, dan bersyukur justru kita mendapatkan banyak hal. 

Terima kasih ai chintia untuk 7 tahun yang luar biasa ini, sudah bertahan, tidak menyerah, meskipun berkali-kali menangis dan terjatuh.

Satu hal yang selalu aku percaya bahwa hari esok itu apapun bisa terjadi, sehingga kita tidak pernah kehilangan harapan.

Semoga impianku untuk bisa membangun sebuah rumah yang hangat dan penuh dengan kasih sayang bisa segera terwujud. 








Ceritaku Tentang Jakarta

Jakarta Ini tahun ke -7 aku berada di kota ini. Saat itu aku  mendadak pindah ke Jakarta dan tidak merencanakan apapun. Pindah dari Bandung ...