Jumat, 07 Oktober 2016

Perjumpaan adalah persiapan untuk perpisahan


Saya tidak menyukai setiap perjumpaan-perjumpaan, tapi obrolan mengenai perjumpaan mengalir begitu saja saat kita sedang menikmati senja dan secangkir kopi hitam.

“Bukannya kamu tidak menyukai kopi?” tanyamu sambil melirik penuh penasaran.

“Obrolan, senja dan kopi itu menjadi bagian yang rasanya sulit dipisahkan. Mereka seperti perjumpaan yang sudah ditakdirkan Tuhan, hanya bedanya perjumpaannya tidak akan terpisahkan,”Saya berkata dengan serius.

Lalu obrolan begitu hangat bukan sore itu. Musik yang mendayu-dayu dari sang diva yang menambah hangatnya suasana. Kamu memakai jaket yang sama saat perjumpaan pertama kita. Saya tidak menyukainya, namun entahlah rasanya rasa tidak suka itu melebur dengan sendirinya.

“Kenapa kamu tidak suka perjumpaan?”

“Karena setelah perjumpaan akan ada perpisahan,saya tidak suka ada tangisan untuk perpisahan,”

Senja telah berganti menjadi malam. Orang-orang di caffe suda berganti, sang diva sudah berhenti bernyanyi tapi obrolan kita semakin liar, sesekali kita menertawakan hal-hal konyol soal perjumpaan pertama kita.

“Saya beruntung bisa berjumpa denganmu?”

“Saya sebenarnya tidak suka dengan perjumpaan ini, karena kita akan berpisah,”tegas saya sambil menyeruput kopi yang sudah dingin.

“Kopi dingin itu enggak enak, diminumnya harus pas, tidak terlalu panas dan dingin, sama seperti perjumpaan bukan?”

“Tapi perjumpaan itu tidak bisa direncanakan, beda dengan minum kopi,”

“Saya bahagia bisa berjumpa dengan kamu,”

Saya tidak menjawab, hanya meminum kopi itu lagi. Karena kalimat itu tidak membutuhkan jawaban bukan, hanya sebuah ungkapan.

“Kamu tidak bahagia berjumpa dengan saya,?”Tanyamu sambil memegang tangan saya erat, dan sorot mata itu seperti meyakinkan bahwa saya adalah orang yang kamu tunggu.

“Saya tidak suka perjumpaan karena akan berakhir dengan perpisahan,”
Malam berakhir dengan kecupan mesra dan pelukan hangat. Lalu seuntai doa terucap dari mulutmu dan begitu hangat ditelingaku, kamu berharap malam panjang ini tidak akan berakhir. Dan esok akan ada malam panjang lainnya.

                               *********
“Saya sudah lelah dengan semuanya, saya sudah berusaha untuk berada disampingmu, bukankah itu yang selalu kita harapkan?”katamu mengawali perjumpaan kita setelah dua bulan berlalu sejak pertemuan terakhir dan kecupan terakhir seusai kita menonton film favoritemu.

“Saya sudah menduga, kamu akan berkata seperti itu,”Saya menatap keluar dan memperhatikan seorang gadis kecil yang menggendong adiknya dijalan raya.

“Kamu jangan marah atau benci saya, kita akan tetap jadi teman bukan,”

“Mungkin. saya tidak bisa berjanji, lihat saja besok,”ujar saya, dengan tatapan yang sama kepada gadis kecil itu, dia sedang bernyanyi menghampiri setiap orang yang sedang menunggu di trotoar.

“Perasaan bukan untuk dipaksakan, saya sudah berusaha tapi,”

“Cukup, saya sudah tahu, bukankah setiap perjumpaan itu perpisahan?”

“Kamu akan sangat benci pada saya?”

“Harus saya jelaskan?apa itu akan mengubah semuanya?”

“Kamu berhak seperti itu, tapi saya ingin berdamai dengan hatimu, saya ingin kita tetap 
baik,”

“Apakah harus selalu saya yang mengikuti setiap keinginanmu?”

Kamu hanya diam dan tidak ada obrolan lagi. Kopi digelas saya tidak dingin karena saya 
sudah meminumnya sejak dari panas tadi. Rasa kopi tanpa gula itu menjadi lebih pahit. 




Kegelisahan Karena Belum Menikah

Akhirnya memasuki usia dimana   sudah ditanyakan “Kapan akan menikah?” atau kamu calonnya mana? Jangan kerja terus ...