Senin, 29 April 2013

Diary Kesedihan


Aku terpaku duduk diam di stasiun. Air mataku tiba-tiba meleleh. aku tak ingin menangis tapi hatiku sudah tidak kuat lagi.

“Sekarang sudah tidak ada comuterline yang ke Gambir mba, disini tujuan jauh semua,”ujar petugas. Sontak saja aku kaget dan kehilangan ide.

“Kalo ke kota ada? “
“Tidak ada,  apa lagi setelah banjir, semua kereta dialihkan ke Manggarai,”
“Jadi saya harus ke Manggarai? Dari sini naik apa?”
“Kopaja aja tapi harus dua kali naik,”
“ok terima kasih,”
Hari itu perasaanku berkecamuk. Apa lagi setelah mendapat sms dari adeknya bapak bahwa nenek telah meninggal. Durhaka sekali aku tidak ada disamping nenek. Aku tak bisa melukiskan perasaanku. Dari sejak meninggalkan the Building Energi, hatiku kacau, bagaimana caranya aku bisa dengan cepat sampai kerumah. Melihat nenekku unuk yang terakhir kalinya.
Aku kehilangan ide, dan entah harus meminta tolong pada siapa. Aku sendiri disini, rencana awal untuk langsung naik busway menuju Lebak bulus tidak jadi karna saat itu banjir sehingga busway berhenti beroperasi.
Ada satu harapan saat itu meminta tolong seorang teman untuk menjemput. Ok saat itu saya sangat berharap ada BBM dia yang berkata “Kamu tunggu disana ya, sebentar lagi aku jemput kamu,” hanya harapan yang tak terjadi.
Karena BBM sesunguhnya adalah,”Maaf aku ga bisa nolong kamu aku sedang mengerjakan tugas kelompok.”
Saat itu saya sadar, hanya saya yang bisa menyelesaikan masalah. Saya yang bisa menguatkan diri sendiri. Menggantungkan harapan lebih kepada orang lain hanya akan menambah rasa sakit. Hari itu saya menguatkan diri sendiri berkata kepada hati saya sendiri saya bisa, saya kuat. Ini jalan yang harus saya lalui. Tuhan punya rencana.
Namun tuhan selalu baik, disaat aku terdiam aku memutuskan untuk keluar stasiun dan mencari jalan lain. Aku naik  ojek untuk  sampai di Manggarai, memesan tiket dengan perasaan yang tak jelas.
Perasaanku masih berkecamuk, bayangan nenek yang terus membayangi. Mama yang menangis, aku yang tidak bisa ada disamping mama. Jika aku punya sayap ingin sekali terbang dan sampai dirumah dengan segera, oh tuhan tapi lagi-lagi aku hanya manusia biasa.
Seorang teman menjemput saya dan mengantarkan sampai Pasar Rebo. Lagi-lagi semua seperti tidak berpihak padaku. Mobil menuju Bandung penuh, hampir 1 jam lebih aku menunggu. Dipinggir jalan temanku bertanya melihat air mukaku yang berubah dari biasanya.
Aku bercerita sambil menangis, sepertinya air mataku sudah tak tertahan lagi, aku tak peduli lagi itu dipinggir jalan dan mungkin orang-orang  melihatku. Tapi setidaknya hatiku lega. Disitu aku sadar ternyata kitapun perlu menangis dan hanya menangis tanpa komentar atau apapun.
Akhirnya ada mobil kosong menuju Bandung. Saya lelah, dan tertidur. Akhirnya jam 2 malam sampai di rumah. Rumah ramai, banyak yang menginap. Saya diam< tak berbicara apapun tak juga menangis. Tak ada nenek bahkan jasadnyapun sudah tak ada. Sodara saya menepuk pundak dan berkata ‘Emi tidak ada” saya tetap diam, kemudian duduk. Ayah menyuruh tidur, saat itu saya menurut tanpa berkata. Saya hanya diam, tak menangis tak bertanya hanya menjawab apa yang ditanyakan. Kemudian saya tertidur dan esok paginya saat bangun saya sadar orang yang  berarti dalam hidup saya sudah tidak ada.
Saya ke makam dan akhirnya tangis saya tumpah disana. Saya hanya bisa menihat tumpukan tanah yang ditaburi bunga. Tak ada lagi belaian lembut. Suara yang selalu mencemaskan. Tapi disana aku belajar ikhlas, menerima kehilangan. Dan membenarkan bahwa sejatinya manusia hanya akan kembali kepada pemliknya.

Selasa, 16 April 2013

Mari Membuka Buku



Sudah hampir 2 bulan saya bergabung dengan klub Global Literacy di Museum Konferensi Asia Afrika. Seru tentu saja, banyak ilmu yang saya dapat, dan tutor yang berpengalaman. Kita belajar membaca, selama saya lahir baru kali ini saya membaca buku dalam bahasa inggris, sebuah novel anak-anak klasik yang berjudul The Screet Garden. Namun bahasa yang digunakan cukup sederhana sehingga saya faham apa artinya.


Setiap minggu selain membahas novel itu kita juga membahas tentang literacy dan membandingkan dengan bangsa kita. Arti dari kata literacy itu sendidri adalah melek huruf, lalu apakah bangsa Indonesia ini telah melek huruf? Ok secara umum memang negara Indonesia sudah melek huruf, dalam artian angka  buta huruf di Indonesia telah menurun.

Lalu lantas bangsa kita menjadi bangsa yang literate?
Menurut saya bangsa kita masih bangsa yang Aliterasi artinya yaitu bangsa yang mempunyai kemampuan membaca namun tidak tertarik untuk melakukannya. Dan fenomena ini sudah menjadi rahasia umum. Contohnya saja ketika saya menjual koran Tempo dikampus dari sekian banyaknya masyarakat kampus yang notabenennya adalah masyarakat yang intelektual namun susah sekali rasanya menjual koran itu bahkan teman saya secara terang-terangan bilang saya tidak suka membaca. So itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi. Ahkan saya sendiri terkadang kesulitan untuk membaca cotoh karena sok sibuk padahal gak sibuk-sibuk banget.

Lalu apakah bangsa yang Aliteracy tersebut  sangat berbahaya? Tentu saja sangat berbahaya karena jika kita tidak banyak membaca kita tidak tahu banyak. Contohnya saja ketika tadi saya mengikuti Bincang Edukasi, salah seorang pembicara dan dia seorang guru berkata bahwa keterlambata ujian nasional merupakan kesalahan lembaga independen seperti perguruan tinggi, padahal ketika saya membaca di koran Tempo dan menjadi headline hari ini keterlambatan itu dikarenakan PT Ghalia yang terlambat mencetak soal UN paket 3 untuk Indonesia bagian tengah. Dan tender yang dimenangkan PT Ghalia terindikasi korupsi, sebab PT Ghalia melakukan penawaran yang paling tinggi dibandingkan perusahaan lainnya.

Berbahaya bukan jika kita tidak membaca karena kita akan memberikan informasi yang salah, jika kita memberi informasi salah maka itu menular kepada yang lain dan begitu seterusnya sehingga bisa salah semua. Maukah bangsa kita menjadi bangsa yang salah?

Mulai saat ini mari kita memulai menjadi literacy, setidaknya kita membaca 1 atau 2 halaman. Yah bahkan untuk memancing membaca dalam bahasa inggris saya diberi buku dongeng anak-anak oleh tutor saya. Dan saya mencobanya, o ya sangat menarik sekali.
Yuk kita liat kalender atau jadwal harian kita, kita lihat apakah ada waktu 1 jam untuk membaca 10 halaman saja? Setiap hari asal dilakukan saya yakin buku-buku dirak saya akan cepat habis, dan mungkin DiBawah Bendera Revolusi bukunya Soekarno bisa diselelsaikan.

Saya mencoba mengutip beberapa kalimat tentang Literacy:
“Literasi adalah jembatan untuk berharap” Kofi Anan
“Sekali Anda belajar membaca, anda akan terbebas selamanya,” Frederick Douglas
“Orang yang tidak membaca tidak mempunyai keuntungan lebih dari orang yang bisa membaca” Mark Twain

Senin, 15 April 2013

Diary Kesedihan

Aku terpaku duduk diam di stasiun. Air mataku tiba-tiba meleleh. aku tak ingin menangis tapi hatiku sudah tidak kuat lagi.
“Sekarang sudah tidak ada comuterline yang ke Gambir mba, disini tujuan jauh semua,”ujar petugas. Sontak saja aku kaget dan kehilangan ide.
“Kalo ke kota ada? “
“Tidak ada,  apa lagi setelah banjir, semua kereta dialihkan ke Manggarai,”
“Jadi saya harus ke Manggarai? Dari sini naik apa?”
“Kopaja aja tapi harus dua kali naik,”
“ok terima kasih,”
Hari itu perasaanku berkecamuk. Apa lagi setelah mendapat sms dari adeknya bapak bahwa nenek telah meninggal. Durhaka sekali aku tidak ada disamping nenek. Aku tak bisa melukiskan perasaanku. Dari sejak meninggalkan the Building Energi, hatiku kacau, bagaimana caranya aku bisa dengan cepat sampai kerumah. Melihat nenekku unuk yang terakhir kalinya.
Aku kehilangan ide, dan entah harus meminta tolong pada siapa. Aku sendiri disini, rencana awal untuk langsung naik busway menuju Lebak bulus tidak jadi karna saat itu banjir sehingga busway berhenti beroperasi.
Ada satu harapan saat itu meminta tolong seorang teman untuk menjemput. Ok saat itu saya sangat berharap ada BBM dia yang berkata “Kamu tunggu disana ya, sebentar lagi aku jemput kamu,” hanya harapan yang tak terjadi.
Karena BBM sesunguhnya adalah,”Maaf aku ga bisa nolong kamu aku sedang mengerjakan tugas kelompok.”
Saat itu saya sadar, hanya saya yang bisa menyelesaikan masalah. Saya yang bisa menguatkan diri sendiri. Menggantungkan harapan lebih kepada orang lain hanya akan menambah rasa sakit. Hari itu saya menguatkan diri sendiri berkata kepada hati saya sendiri saya bisa, saya kuat. Ini jalan yang harus saya lalui. Tuhan punya rencana.
Namun tuhan selalu baik, disaat aku terdiam aku memutuskan untuk keluar stasiun dan mencari jalan lain. Aku naik  ojek untuk  sampai di Manggarai, memesan tiket dengan perasaan yang tak jelas.
Perasaanku masih berkecamuk, bayangan nenek yang terus membayangi. Mama yang menangis, aku yang tidak bisa ada disamping mama. Jika aku punya sayap ingin sekali terbang dan sampai dirumah dengan segera, oh tuhan tapi lagi-lagi aku hanya manusia biasa.
Seorang teman menjemput saya dan mengantarkan sampai Pasar Rebo. Lagi-lagi semua seperti tidak berpihak padaku. Mobil menuju Bandung penuh, hampir 1 jam lebih aku menunggu. Dipinggir jalan temanku bertanya melihat air mukaku yang berubah dari biasanya.
Aku bercerita sambil menangis, sepertinya air mataku sudah tak tertahan lagi, aku tak peduli lagi itu dipinggir jalan dan mungkin orang-orang  melihatku. Tapi setidaknya hatiku lega. Disitu aku sadar ternyata kitapun perlu menangis dan hanya menangis tanpa komentar atau apapun.
Akhirnya ada mobil kosong menuju Bandung. Saya lelah, dan tertidur. Akhirnya jam 2 malam sampai di rumah. Rumah ramai, banyak yang menginap. Saya diam< tak berbicara apapun tak juga menangis. Tak ada nenek bahkan jasadnyapun sudah tak ada. Sodara saya menepuk pundak dan berkata ‘Emi tidak ada” saya tetap diam, kemudian duduk. Ayah menyuruh tidur, saat itu saya menurut tanpa berkata. Saya hanya diam, tak menangis tak bertanya hanya menjawab apa yang ditanyakan. Kemudian saya tertidur dan esok paginya saat bangun saya sadar orang yang  berarti dalam hidup saya sudah tidak ada.
Saya ke makam dan akhirnya tangis saya tumpah disana. Saya hanya bisa menihat tumpukan tanah yang ditaburi bunga. Tak ada lagi belaian lembut. Suara yang selalu mencemaskan. Tapi disana aku belajar ikhlas, menerima kehilangan. Dan membenarkan bahwa sejatinya manusia hanya akan kembali kepada pemliknya.

Kegelisahan Karena Belum Menikah

Akhirnya memasuki usia dimana   sudah ditanyakan “Kapan akan menikah?” atau kamu calonnya mana? Jangan kerja terus ...