Tampilkan postingan dengan label 30 Menulis Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 Menulis Surat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2016

Surat Untuk Ayah



 










Dear Ayah

Apa kabar? Setelah 2 tahun lebih kita tak bertanya kabar apa lagi bertemu. Ayah, saya tidak tahu harus bagaimana bersikap pada ayah. Jika saya tidak baik, saya takut karena bagaimana pun ayah adalah ayah kandung saya. Tapi yah, jika mengingat semuanya saya kecewa pada ayah dan rasa kecewa itu sudah sangat besar ada di hati saya, hingga saya sudah tak punya rasa lagi sepertinya.
Dua hari yang lalu, ayah sms saya, katanya istri ayah sakit dan ingin bertemu saya. Jujur saja, saya masih ada ego untuk tidak mau peduli tentang hal itu, seperti selama 25 tahun ini bukan? Ayah tak mau tahu bagaimana susahnya saya menjalani kehidupan saya, bagaimana saya saat sakit, bagaimana saat saya tersakiti oleh orang lain. Tapi saya belajar satu hal dari ayah bahwa kebahagiaan dan rasa kecewa itu satu paket yang tidak bisa dihindarkan dalam hidup kita.

Ayah,

Tuhan ingin saya belajar untuk menerima, Tuhan juga ingin saya tumbuh menjadi seseorang yang mampu memaafkan. Seberapa sering ayah membuat saya kecewa, tapi saat ayah datang dan meminta maaf serta ingin memperbaiki semuanya, tangan saya selalu terbuka, tapi lagi dan lagi ayah tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.
Saya piker, pertemuan pertama kita itu akan mengubah hubungan kita menjadi lebih baik, selayaknya seorang ayah dan anaknya tapi sayangnya sebaliknya. Ayah lagi-lagi membuat saya dan nenek kecewa. Tapi gak apa, itu membuat saya belajar bahwa orang tersdekat itu justru yang akan lebih membuat kita kecewa.

Saya tidak tahu kenapa saya ditakdirkan dengan jalan hidup seperti ini. Yang berbeda dengan kebanyakn orang lain. Tapi sudahlah, bukankah ini justru yang bisa membuat saya tegar dan tidak lemah menghadapi semua persoalan yang ada dalam hidup saya. Bukankah ini justru membuat saya harus berdamai dengan keadaan, harus menerima dan memeluknya. Saya tidak bisa mengutuki apa yang sudah menajdi takdir hidup saya, jika dulu memang saya megingkarinya, sekarang saya sedang belajar untuk menerima semua rasa kecewa, rasa sedih, rasa takut dan bahagia. Itu semua tidak bisa diingkari dan pasti akan datang dalam hidup kita.

Ayah

Bagaimanapun saya tidak bisa mengingkari bahwa darah yang ada dalam tubuh saya ini adalah darah ayah. Walaupun kita tidak dekat dan bertemu pun hanya dalam hitungan jari, tapi yaah itu semuanya tidak bisa diingkari. Saya sepenuhnya menerima ayah sebagai ayah saya, saya memeluk semua rasa kecewa, saya belajar untuk mempunyai hati yang lapang, memaafkan apa yang telah terjadi dan menerima apa yang sudah dituliskan tuhan untuk saya. Mungkin saya terlambat untuk memahami itu semua, saya masih harus belajar untuk menaklukan segala ego yang ada dalam diri saya, tapi ayah keadaan ini membuat saya belajar tentang hidup.  Terima kasih sudah menjadi ayah saya, dan semoga kita bertemu

Jumat, 26 Agustus 2016

Surat Untuk Kamu









Hallo Dear

Saya mulai berjanji untuk tidak mau berharap pada siapapun. Saat ini saya juga sedang berusaha untuk memantaskan diri, untuk kamu kelak, dan untuk anak-anak kita nanti. Bukankah seperti yang pernah kamu bilang, bahwa perempuan itu adalah sekolah untuk anak-anaknya, sehingga kata-kata itu mengharuskan saya untuk belajar dan belajar agar anak kita nanti punya ibu yang cerdas, punya ibu yang luar biasa.

Dear

Kamu percaya gak soal klik? Hmm bukan semacam klik di mouse atau tombol hehe, tapi ini soal hati. Bahkan untuk bertemanpun kita harrus merasa klik, coba aja dari ratusan orang yang kita jumpa, hanya sebagian orang bukan yang bisa menjadi teman kita. Saya percaya soal ini, bahwa hati itu harus klik.

Entahlah ini apa namanya. Saya tidak mau mendeskripsikannya terlalu jauh. Saya hanya suka mengobrol sama kamu. Rasanya saat kita berjumpa saya ingin terus bercerita banyak. Saya ingin berbagi banyak hal, dan saya seolah-olah sudah mengenalmu jauh sekali. Tapi sekali lagi saya takut sungguh jika itu sebenarnya bukan perasaan yang benar, itu hanya ujian dari tuhan seberapa bisa saya tetap beristiqamah dengan apa yang menjadi niat saya saat ini.

Saat ini saya hanya sedang berpasrah, saya percaya bahwa hal-hal baik dengan niat baik akan didekatkan. Saya juga percaya bahwa Tuhan jauh lebih tau tentang skenario indah lainnya. Saya hanya akan terus menitip doa, tapi maaf saya memang tidak menyebutkan nama kamu dalam doa saya. Yah, saya hanya berdoa untuk siapapun orangnya yang terbaik untuk hidup saya agar segera didekatkan. Dan untuk mengisi waktu itu, saya sedang ingin melakukan hal-hal yang membuat saya berkembang.

Bagaimana kabar hari ini? Terima kasih selalu mendukung dan membantu saya dalam setiap pekerjaan saya, walaupun kadang itu sangat merepotkanmu. Atau kadang saya berpikir negative ketika kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Entah kenapa, saya merasa kamu itu beda. Saya seperti menemukan cermin diri saya padamu saat pertama kali kita kenal, padahal itu kita belum ketemu. Langit Jakarta mulai gelap, semoga kerja kerasmu hari ini diberkahi oleh Tuhan.

Tahun ini Harus Bahagia

 Tahun ini kayaknya aku lagi males relationship dan udah bener-bener ikhlas serta berserah diri aja. Kayaknya taun ini aku mau lebih banyak ...